Senin, 11 Januari 2016

Trisusanti saragih



Nama saya Trisusanti saragih, pada tulisan ini saya akan bercerita tentang pengalaman hidup yang pernah saya alami. Pengalaman saya ini tepat nya terjadi pada tahun 2012, saat itu saya tengah menempuh pendidikan sebagai siswa kelas XII SMA. Sebagai siswa SMA tingkat akhir tentu saja masalah biaya adalah hal yang mendasar terutama untuk biaya menjalani ujian-ujian akhir guna menyelesaikan pendidikan di sekolah tingkat menengah atas itu. Awalnya saya yang memang masih menjadi tanggung jawab orang tua merasa tidak ada masalah dengan hal-hal tersebut, karena saya berfikir tentu ini akan berjalan seperti sebelumnya bahwa segala biaya maupun kebutuhan akan di tanggung oleh kedua orang tua. Namun, Allah berkehendak lain disaat pendidikan memerlukan dana yang tidak sedikit, saat itu pula ibu saya menderita penyakit komplikasi. Ibu saya didiagnosis dokter menderita penyakit demam berdarah, kekurangan trombosit dan asam lambung yang akut, sehingga mengharuskan ibu di rawat, awal nya untuk menghemat biaya kami membawa ibu ke klinik Asia Medica di Tandam, setelah di rawat selama 1 minggu ternyata belum mengurangi penyakit ibu. Karena penyakit ibu yang sudah lumayan parah sehingga pihak klinik tidak sanggup untuk merawat nya dan menyarankan agar ibu saya di rujuk ke rumah sakit Artha Medica yang terletak di tanah merah, Binjai. Betapa terkejut nya kami karena setelah di rujuk dan di periksa dokter mengatakan bahwa penyakit ibu saya sudah terlanjur parah dan fatal, sehingga apabila ibu terlambat sehari saja untuk di rujuk maka nyawa nya belum tentu tertolong (nauzubillah). Untuk menyelamatkan nyawa ibu maka ibu harus di rawat di ruang ICU yang membutuhkan biaya untuk membayar kamar saja sekitar Rp 2.500.000 per malam. Tanpa fikir panjang ayah saya menyetujui hal itu, padahal pada saat itu keadaan ekonomi ayah yang semakin menipis karena sudah membiayai perawatan ibu selama di rumah dan di klinik sebelumnya yang sudah berminggu-minggu, di tambah lagi keadaan ayah yang tidak dapat bekerja secara maksimal karena harus ikut merawat ibu dan mengurus keadaan di rumah. Akhirnya uang tabungan ayah pun menipis, menyadari hal ini sebagai anak yang dikatakan sudah dewasa tentu saya memahami dengan keadaan ini, tentu saya tidak akan sanggup untuk meminta uang sekolah maupun keperluan lain untuk biaya di ujian akhir sekolah nanti. Saya tidak mau semakin membebani ayah dengan hal tersebut. Seandainya ini bukan ujian akhir untuk kelulusan mungkin saya bisa memohon kepada pihak sekolah untuk menangguhkan waktu pembayaran biaya sekolah, tetapi apa boleh buat hal itu tidak dapat dilakukan, saya harus tetap melunasi segala biaya nya. Padahal ujian nasional sekitar 1 bulan lagi. Saya sangat merasa bingung dengan keadaan waktu itu, dan saya tidak mau menceritakan hal itu kepada ayah. Setiap doa saya memohon kepada Allah untuk membukakan jalan nya untuk saya. Sampai akhirnya Allah membantu saya, di saat saya berada di lobi rumah sakit sembari menemani ibu, saya melihat ada sebuah Koran terletak di meja, koran itu adalah Koran Republika. Saya pun membaca Koran tersebut ternyata koran itu menyediakan halaman yang cukup luas untuk cerita pendek karya-karya dari para pembaca, saya berfikir mungkinkah saya mengirimkan cerpen pada Koran ini karena memang saya suka membuat cerpen dan ada beberapa cerpen yang telah saya hasilkan. Akhirnya dengan bermodalkan Wifi rumah sakit Artha Medica saya pun browsing mencari informasi-informasi tentang alamat e-mail pihak redaksi dari Koran Republika serta cara-cara maupun persyaratan yang dibutuhkan untuk menerbitkan cerpen saya di Koran. Setelah membaca dan memahami persyaratan dan tata cara pengiriman serta alamat redaksi dari Koran tersebut, saya pun mengirimkan hasil cerpen saya. Yang membuat saya berharap karena pada keterangan tercantum bahwa untuk hasil-hasil karya yang dimuat akan di beri honor. Untuk puisi sekitar Rp 2.00.000 - 4.00.000 dan untuk cerpen sekitar RP 8.00.000 - 1.200.000 tergantung isi dari puisi maupun cerpen yang di muat. Dengan keadaan ekonomi yang seperti kami alami saat itu tentu nominal sekecil apapun sangat berharga bagi kami, saya berharap apabila cerpen saya dapat di muat saya akan dapat mengurangi beban ayah walaupun sedikit. Setidaknya saya sudah berusaha membantu. Dengan Bismillah saya pun mengirim salah  satu cerpen saya yang berjudul “Mukenah Untuk Emak” alasan saya memilih cerpen ini karena dari informasi yang saya baca maupun isi-isi cerpen dari korannya, bahwa Koran Republika termasuk Koran jenis Religi islam. Pada keterangan pengiriman juga dijelaskan untuk pembaca yang mengirim hasil karya nya akan diberi pemberitahuan melalui e-mail 2 minggu dan paling lambat 1 bulan setelah pengiriman dan apabila karya telah dimuat honor akan ditransfer langsung melalui rekening yang juga dicantumkan bersamaan di saat pengiriman file cerpen. Saya mengirimkan nomor rekening ayah pada saat itu karena saya belum mempunyai nomor rekening sendiri.
Setelah kurang lebih seminggu ibu di rawat, Alhamdulillah keadaan ibu membaik. Karena tabungan ayah yang sudah tidak cukup membiayai perawatan ibu akhirnya ayah berkonsultasi pada dokter untuk membawa ibu pulang dan merawat di rumah dengan melakukan check up setiap 1 minggu sekali. Dengan berbagai pertimbangan dan persyaratan, akhirnya dokter pun mengizinkannya dan ibu dapat di bawa pulang dan kami merawat ibu di rumah. Setelah itu hampir setiap hari saya membuka e-mail saya dengan harapan ada redaksi yang mengirim pesan, karena saya harus membayar uang ujian praktek dalam waktu dekat. Setelah kurang lebih 3 minggu pengiriman cerpen. Pesan yang saya tunggu-tunggu tiba, saya membuka kotak masuk dan terdapat tulisan “Saudari Trisusanti saragih cerpen yang anda kirim dengan judul Mukenah Untuk Emak telah kami muat pada Koran Republika edisi minggu ini dan honor telah kami kirim pada rekening saudari, terima kasih atas partisipasinya. Salam hormat dewan redaksi Koran republika”. Saya pun langsung mengecek rekening ayah saya dan melihat ada kiriman sebesar Rp 1.100.000 pada saat itu tidak tergambar rasa bahagia yang saya rasakan, karena untuk anak SMA yang belum bekerja itulah pertama kalinya saya menghasilkan uang dari usaha saya sendiri untuk membantu sedikit beban ayah. Akhirnya saya pun menceritakan pada ayah tentang jumlah biaya yang dibutuhkan untuk pembayaran sekolah dan jumlah uang yang telah saya dapatkan. Entah ayah mendapatkan uang dari mana tetapi ayah memberikan uang untuk melunasi uang sekolah saya dan di tambah dari uang yang saya dapatkan, lunaslah biaya akhir sekolah saya untuk kelulusan. Inilah pengalaman yang pernah saya alami, maan jadda waa jadda dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Sekian kisah dari saya semoga menginspirasi bagi yang membaca.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar