Nama saya Trisusanti saragih, pada
tulisan ini saya akan bercerita tentang pengalaman hidup yang pernah saya
alami. Pengalaman saya ini tepat nya terjadi pada tahun 2012, saat itu saya
tengah menempuh pendidikan sebagai siswa kelas XII SMA. Sebagai siswa SMA
tingkat akhir tentu saja masalah biaya adalah hal yang mendasar terutama untuk
biaya menjalani ujian-ujian akhir guna menyelesaikan pendidikan di sekolah
tingkat menengah atas itu. Awalnya saya yang memang masih menjadi tanggung
jawab orang tua merasa tidak ada masalah dengan hal-hal tersebut, karena saya
berfikir tentu ini akan berjalan seperti sebelumnya bahwa segala biaya maupun
kebutuhan akan di tanggung oleh kedua orang tua. Namun, Allah berkehendak lain
disaat pendidikan memerlukan dana yang tidak sedikit, saat itu pula ibu saya
menderita penyakit komplikasi. Ibu saya didiagnosis dokter menderita penyakit
demam berdarah, kekurangan trombosit dan asam lambung yang akut, sehingga
mengharuskan ibu di rawat, awal nya untuk menghemat biaya kami membawa ibu ke klinik
Asia Medica di Tandam, setelah di rawat selama 1 minggu ternyata belum
mengurangi penyakit ibu. Karena penyakit ibu yang sudah lumayan parah sehingga
pihak klinik tidak sanggup untuk merawat nya dan menyarankan agar ibu saya di
rujuk ke rumah sakit Artha Medica yang terletak di tanah merah, Binjai. Betapa
terkejut nya kami karena setelah di rujuk dan di periksa dokter mengatakan
bahwa penyakit ibu saya sudah terlanjur parah dan fatal, sehingga apabila ibu
terlambat sehari saja untuk di rujuk maka nyawa nya belum tentu tertolong
(nauzubillah). Untuk menyelamatkan nyawa ibu maka ibu harus di rawat di ruang
ICU yang membutuhkan biaya untuk membayar kamar saja sekitar Rp 2.500.000 per
malam. Tanpa fikir panjang ayah saya menyetujui hal itu, padahal pada saat itu
keadaan ekonomi ayah yang semakin menipis karena sudah membiayai perawatan ibu
selama di rumah dan di klinik sebelumnya yang sudah berminggu-minggu, di tambah
lagi keadaan ayah yang tidak dapat bekerja secara maksimal karena harus ikut
merawat ibu dan mengurus keadaan di rumah. Akhirnya uang tabungan ayah pun
menipis, menyadari hal ini sebagai anak yang dikatakan sudah dewasa tentu saya
memahami dengan keadaan ini, tentu saya tidak akan sanggup untuk meminta uang
sekolah maupun keperluan lain untuk biaya di ujian akhir sekolah nanti. Saya
tidak mau semakin membebani ayah dengan hal tersebut. Seandainya ini bukan
ujian akhir untuk kelulusan mungkin saya bisa memohon kepada pihak sekolah
untuk menangguhkan waktu pembayaran biaya sekolah, tetapi apa boleh buat hal
itu tidak dapat dilakukan, saya harus tetap melunasi segala biaya nya. Padahal
ujian nasional sekitar 1 bulan lagi. Saya sangat merasa bingung dengan keadaan
waktu itu, dan saya tidak mau menceritakan hal itu kepada ayah. Setiap doa saya
memohon kepada Allah untuk membukakan jalan nya untuk saya. Sampai akhirnya Allah
membantu saya, di saat saya berada di lobi rumah sakit sembari menemani ibu,
saya melihat ada sebuah Koran terletak di meja, koran itu adalah Koran Republika.
Saya pun membaca Koran tersebut ternyata koran itu menyediakan halaman yang
cukup luas untuk cerita pendek karya-karya dari para pembaca, saya berfikir
mungkinkah saya mengirimkan cerpen pada Koran ini karena memang saya suka
membuat cerpen dan ada beberapa cerpen yang telah saya hasilkan. Akhirnya dengan
bermodalkan Wifi rumah sakit Artha Medica saya pun browsing mencari
informasi-informasi tentang alamat e-mail pihak redaksi dari Koran Republika
serta cara-cara maupun persyaratan yang dibutuhkan untuk menerbitkan cerpen
saya di Koran. Setelah membaca dan memahami persyaratan dan tata cara
pengiriman serta alamat redaksi dari Koran tersebut, saya pun mengirimkan hasil
cerpen saya. Yang membuat saya berharap karena pada keterangan tercantum bahwa
untuk hasil-hasil karya yang dimuat akan di beri honor. Untuk puisi sekitar Rp
2.00.000 - 4.00.000 dan untuk cerpen sekitar RP 8.00.000 - 1.200.000 tergantung
isi dari puisi maupun cerpen yang di muat. Dengan keadaan ekonomi yang seperti
kami alami saat itu tentu nominal sekecil apapun sangat berharga bagi kami,
saya berharap apabila cerpen saya dapat di muat saya akan dapat mengurangi
beban ayah walaupun sedikit. Setidaknya saya sudah berusaha membantu. Dengan
Bismillah saya pun mengirim salah satu
cerpen saya yang berjudul “Mukenah Untuk Emak” alasan saya memilih cerpen ini
karena dari informasi yang saya baca maupun isi-isi cerpen dari korannya, bahwa
Koran Republika termasuk Koran jenis Religi islam. Pada keterangan pengiriman
juga dijelaskan untuk pembaca yang mengirim hasil karya nya akan diberi
pemberitahuan melalui e-mail 2 minggu dan paling lambat 1 bulan setelah
pengiriman dan apabila karya telah dimuat honor akan ditransfer langsung
melalui rekening yang juga dicantumkan bersamaan di saat pengiriman file
cerpen. Saya mengirimkan nomor rekening ayah pada saat itu karena saya belum
mempunyai nomor rekening sendiri.
Setelah kurang lebih seminggu ibu di
rawat, Alhamdulillah keadaan ibu membaik. Karena tabungan ayah yang sudah tidak
cukup membiayai perawatan ibu akhirnya ayah berkonsultasi pada dokter untuk
membawa ibu pulang dan merawat di rumah dengan melakukan check up setiap 1
minggu sekali. Dengan berbagai pertimbangan dan persyaratan, akhirnya dokter
pun mengizinkannya dan ibu dapat di bawa pulang dan kami merawat ibu di rumah. Setelah
itu hampir setiap hari saya membuka e-mail saya dengan harapan ada redaksi yang
mengirim pesan, karena saya harus membayar uang ujian praktek dalam waktu
dekat. Setelah kurang lebih 3 minggu pengiriman cerpen. Pesan yang saya
tunggu-tunggu tiba, saya membuka kotak masuk dan terdapat tulisan “Saudari
Trisusanti saragih cerpen yang anda kirim dengan judul Mukenah Untuk Emak telah
kami muat pada Koran Republika edisi minggu ini dan honor telah kami kirim pada
rekening saudari, terima kasih atas partisipasinya. Salam hormat dewan redaksi
Koran republika”. Saya pun langsung mengecek rekening ayah saya dan melihat ada
kiriman sebesar Rp 1.100.000 pada saat itu tidak tergambar rasa bahagia yang
saya rasakan, karena untuk anak SMA yang belum bekerja itulah pertama kalinya
saya menghasilkan uang dari usaha saya sendiri untuk membantu sedikit beban
ayah. Akhirnya saya pun menceritakan pada ayah tentang jumlah biaya yang
dibutuhkan untuk pembayaran sekolah dan jumlah uang yang telah saya dapatkan.
Entah ayah mendapatkan uang dari mana tetapi ayah memberikan uang untuk
melunasi uang sekolah saya dan di tambah dari uang yang saya dapatkan, lunaslah
biaya akhir sekolah saya untuk kelulusan. Inilah pengalaman yang pernah saya
alami, maan jadda waa jadda dimana ada kemauan di situ pasti ada jalan. Sekian
kisah dari saya semoga menginspirasi bagi yang membaca.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar