Sabtu, 09 Januari 2016

Eko Aprianda



                Nama saya Eko Aprianda, lahir di Sidorejo pada 18 April 1995 dan saya tinggal di kota Stabat. Sekarang saya sedang menjalani kegiatan perkuliahan pasa semester 5 di salah satu sekolah tinggi di kota dekat tempat tinggal saya. Disini saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan kehidupan saya. Cerita ini bermula setelah saya menyelesaikan pendidikan SMA di SMA NEGERI 1 STABAT. Awalnya saya berfikir tidak akan melanjutkan pendidikan saya ke rana perkuliahan dan apakah kira-kira orang tua saya sanggup atau tidak, tetapi seiring pemikiran seperti itu masukan dari berbagai pejuru pun mulai berdatangan, hingga konflik kejadian nyata pun saya lihat.
                Disuatu ketika saya beranjak dari rumah berniat mencari informasi lowongan pekerjaan di salah satu rumah teman saya yang rumahnya berada di kota, karena terlintas difikiran saya dialah oang yang tepat untuk saya datangi. Berdalih mencari informasi lowongan pekerjaan tetapi disambut sebaliknya dia bertanya kepada saya mengapa tidak kuliah, setelah saya beritahukan alasannya dia pun member pernyataan bahwa jika ada kemauan pasti selalu ada jalannya.
                Dengan pertimbangan yang sangat berat dan tekat kemauan tinggi, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah. Setelah saya bicarakan kepada orang tua saya ternyata mereka setuju dan menyanggupi untuk biaya kuliah saya.
                Setelah satu semester menjalani kuliah , saya melihat nama saya ada di papan pengumuman kampus sebagai daftar mahasiswa berprestasi. Saya berfikir, apa yang bias saya lakukan untuk membantu orang tua saya membiayai kuliah saya sedangkan saya tidak bekerja. Ketika sedang membaca papan pengumuman kampus, terlihat informasi untuk beasiswa BBM dan PPA. Terlintas difikiran saya untuk mengambil beasiswa BBM tapi saya berfikir masih banyak orang di bawah saya yang membutuhkan beasiswa BBM ini, alhasil saya memilih untuk mencoba keberuntungan beasiswa di PPA. Sedikit informasi beasiswa BBM diperuntukan bagi mahasiswa berkategori berprestasi dan kurang mampu, sedangkan beasiswa PPA diperuntukan untuk mahasiswa kategori berprestasi tinggi.
                Setelah proses beberapa hari, tiba pengumuman daftar mahasiswa yang lulus seleksi untuk mendapatkan kedua beasiswa tersebut. Tanpa disangka nama saya tertera di daftar tersebut, beribu syukur saya rasakan karena usaha belajar keras selama satu semester ini berbuah manis. Dengan IP yang cukup saya memperoleh beasiswa PPA untuk membiayai kuliah saya selama satu tahun.
                Singkat cerita setelah setahun berlalu beasiswa saya pun mencapai batasanya. Saya sadar mempunyai modal untuk mengajukan beasiswa lagi, tetapi keadaan berkata lain. Kesalahan penulisan KHS yang saya terima berbeda dengan nilai yang harusnya saya terima sehingga saya harus menerima kenyataan pahit tergesernya posisi saya di papan pengumuman kampus sebagai salah satu mahasiswa berprestasi.  Pihak akademik kampus mengakui adanya penulisan yang salah dalam KHS saya, setelah direvisi dan benar adanya, ternyata peluang untuk mendapat beasiswa lagi sudah terlambat.
                Mengetahui hal ini saya pun berfikir keras lagi untuk membantu orang tua saya membiayai kuliah saya. Pada saat libur kuliah yang panjang, saya pun mendatangi salah seorang tetangga yang saya kenal sebagai kontraktor proyek besar, saya mengajukan diri untuk bekerja di proyeknya. Karena tidak memiliki keahlian dibidang proyek, saya pun memutuskan bekerja menjadi kuli bangunan selama libur kuliah yang panjang ini. Hari pertama sampai hari ketiga serasa ingin menyerah menekuni pekerjaan kasar ini, mengankat dan memindahkan besi ulir berdiameter 2,5 centimeter sepanjang 12 meter merupakan kegiatan sambutan mengawali hari kerja saya. Terfikir oleh saya apakah saya kuat dalam pekerjaan ini, jika tidak maka besok saya menyerah. Tetapi bukan dalam jiwa saya untuk mudah menyerah, hari-hari berlalu pun saya mulai terbiasa untuk menjalani pekerjaan ini. Selama 3 bulan saya bekerja mengumpulkan uang terkumpul nominal yang saya belum pernah capai sebelumnya.
                Tapi belum, saya belum puas, saya harus mendapat yang lebih dari ini. Di liburan tahun berikutnya pun saya bekerja di proyek yang sebelumnya saya pernah bekerja. Tapi saya tidak lagi menjadi kuli bangunan seperti sebelumnya, seiring bekerja saya juga belajar mencari ilmu baru. Kali ini saya memberanikan diri bekerja sebagai tukang las, dengan sedikit ilmu yang saya kuasai perlahan saya mengembangkannya seiring kegiatan bekerja saya yang kali ini. Setelah 3 bulan berlalu saya pun menerima hasil kerja keras saya,tapi ini terakhir saya menjalani pekerjaan di proyek ini. Liburan tahun depan tidak memungkinkan saya untuk bekerja lagi karena faktor perkuliahan saya yang mulai membuat saya menjadi super sibuk. Hal itu seperti pelaksanaan praktek kerja lapangan dan tugas kuliah yang semakin banyak saja serta pemikiran untuk mengerjakan skripsi saya.
                Saya mengakui masih kurang dari cukup untuk membantu biaya kuliah saya tapi setidaknya saya sudah berusaha, susah senang dalam pekerjaan dan apapun yang terjadi menjadi pengalaman hidup buat saya .
                Walaupun Kesalahan pencetakan KHS saya alami sangat disayangkan  dan mengakibatkan saya kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa, tapi dibalik itu semua saya mendapatkan pelajaran hidup yang berharga. Sekian cerita yang dapat saya bagikan dan terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan saya .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar