Nama saya Eko Aprianda, lahir di Sidorejo pada 18
April 1995 dan saya tinggal di kota Stabat. Sekarang saya sedang menjalani kegiatan perkuliahan pasa semester 5 di salah satu sekolah tinggi di kota dekat tempat tinggal saya. Disini saya akan bercerita sedikit tentang perjalanan kehidupan
saya. Cerita ini bermula setelah saya menyelesaikan pendidikan SMA di SMA
NEGERI 1 STABAT. Awalnya saya berfikir tidak akan melanjutkan pendidikan saya
ke rana perkuliahan dan apakah kira-kira orang tua saya sanggup atau tidak,
tetapi seiring pemikiran seperti itu masukan dari berbagai pejuru pun mulai
berdatangan, hingga konflik kejadian nyata pun saya lihat.
Disuatu ketika saya beranjak dari rumah berniat mencari
informasi lowongan pekerjaan di salah satu rumah teman saya yang rumahnya
berada di kota, karena terlintas difikiran saya dialah oang yang tepat untuk
saya datangi. Berdalih mencari informasi lowongan pekerjaan tetapi disambut
sebaliknya dia bertanya kepada saya mengapa tidak kuliah, setelah saya
beritahukan alasannya dia pun member pernyataan bahwa jika ada kemauan pasti
selalu ada jalannya.
Dengan pertimbangan yang sangat berat dan tekat
kemauan tinggi, akhirnya saya memutuskan untuk kuliah. Setelah saya bicarakan
kepada orang tua saya ternyata mereka setuju dan menyanggupi untuk biaya kuliah
saya.
Setelah satu semester menjalani kuliah , saya melihat
nama saya ada di papan pengumuman kampus sebagai daftar mahasiswa berprestasi.
Saya berfikir, apa yang bias saya lakukan untuk membantu orang tua saya
membiayai kuliah saya sedangkan saya tidak bekerja. Ketika sedang membaca papan
pengumuman kampus, terlihat informasi untuk beasiswa BBM dan PPA. Terlintas
difikiran saya untuk mengambil beasiswa BBM tapi saya berfikir masih banyak
orang di bawah saya yang membutuhkan beasiswa BBM ini, alhasil saya memilih
untuk mencoba keberuntungan beasiswa di PPA. Sedikit informasi beasiswa BBM
diperuntukan bagi mahasiswa berkategori berprestasi dan kurang mampu, sedangkan
beasiswa PPA diperuntukan untuk mahasiswa kategori berprestasi tinggi.
Setelah proses beberapa hari, tiba pengumuman daftar
mahasiswa yang lulus seleksi untuk mendapatkan kedua beasiswa tersebut. Tanpa
disangka nama saya tertera di daftar tersebut, beribu syukur saya rasakan
karena usaha belajar keras selama satu semester ini berbuah manis. Dengan IP
yang cukup saya memperoleh beasiswa PPA untuk membiayai kuliah saya selama satu
tahun.
Singkat cerita setelah setahun berlalu beasiswa saya
pun mencapai batasanya. Saya sadar mempunyai modal untuk mengajukan beasiswa
lagi, tetapi keadaan berkata lain. Kesalahan penulisan KHS yang saya terima
berbeda dengan nilai yang harusnya saya terima sehingga saya harus menerima
kenyataan pahit tergesernya posisi saya di papan pengumuman kampus sebagai
salah satu mahasiswa berprestasi. Pihak
akademik kampus mengakui adanya penulisan yang salah dalam KHS saya, setelah
direvisi dan benar adanya, ternyata peluang untuk mendapat beasiswa lagi sudah
terlambat.
Mengetahui hal ini saya pun berfikir keras lagi untuk
membantu orang tua saya membiayai kuliah saya. Pada saat libur kuliah yang
panjang, saya pun mendatangi salah seorang tetangga yang saya kenal sebagai
kontraktor proyek besar, saya mengajukan diri untuk bekerja di proyeknya.
Karena tidak memiliki keahlian dibidang proyek, saya pun memutuskan bekerja
menjadi kuli bangunan selama libur kuliah yang panjang ini. Hari pertama sampai
hari ketiga serasa ingin menyerah menekuni pekerjaan kasar ini, mengankat dan
memindahkan besi ulir berdiameter 2,5 centimeter sepanjang 12 meter merupakan
kegiatan sambutan mengawali hari kerja saya. Terfikir oleh saya apakah saya
kuat dalam pekerjaan ini, jika tidak maka besok saya menyerah. Tetapi bukan
dalam jiwa saya untuk mudah menyerah, hari-hari berlalu pun saya mulai terbiasa
untuk menjalani pekerjaan ini. Selama 3 bulan saya bekerja mengumpulkan uang
terkumpul nominal yang saya belum pernah capai sebelumnya.
Tapi belum, saya belum puas, saya harus mendapat yang
lebih dari ini. Di liburan tahun berikutnya pun saya bekerja di proyek yang
sebelumnya saya pernah bekerja. Tapi saya tidak lagi menjadi kuli bangunan
seperti sebelumnya, seiring bekerja saya juga belajar mencari ilmu baru. Kali
ini saya memberanikan diri bekerja sebagai tukang las, dengan sedikit ilmu yang
saya kuasai perlahan saya mengembangkannya seiring kegiatan bekerja saya yang
kali ini. Setelah 3 bulan berlalu saya pun menerima hasil kerja keras saya,tapi
ini terakhir saya menjalani pekerjaan di proyek ini. Liburan tahun depan tidak
memungkinkan saya untuk bekerja lagi karena faktor perkuliahan saya yang mulai
membuat saya menjadi super sibuk. Hal itu seperti pelaksanaan praktek kerja
lapangan dan tugas kuliah yang semakin banyak saja serta pemikiran untuk
mengerjakan skripsi saya.
Saya mengakui masih kurang dari cukup untuk membantu
biaya kuliah saya tapi setidaknya saya sudah berusaha, susah senang dalam
pekerjaan dan apapun yang terjadi menjadi pengalaman hidup buat saya .
Walaupun Kesalahan pencetakan KHS saya alami sangat
disayangkan dan mengakibatkan saya
kehilangan kesempatan mendapatkan beasiswa, tapi dibalik itu semua saya
mendapatkan pelajaran hidup yang berharga. Sekian cerita yang dapat saya
bagikan dan terima kasih telah menyempatkan waktu untuk membaca tulisan saya .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar